yoldash.net

Ahli Ungkap Penyebab Gelombang Panas Landa Jemaah Haji di Saudi

Serangan panas yang melanda jemaah haji di Arab Saudi diduga terkait erat dengan ulah manusia. Simak angka-angka suhu yang makin ngeri.
Jemaah haji beristirahat usai kena serangan panas di Mina, Arab Saudi, 16 Juni. Apa pemicu serangan panas ini? (AFP/FADEL SENNA)

Jakarta, Indonesia --

Para ahli menyebut serangan panas yang melanda jemaah haji di Arab Saudi diduga terkait erat dengan perubahan iklim, fenomena yang dipicu oleh tingkah manusia.

Ibadah haji tahun ini, yang dimulai pada 14 Juni, diikuti oleh sekitar 2 juta umat Islam dari sekitar 180 negara. Seperti tahun lalu, serangan panas kembali melanda.

"Prakiraan iklim untuk haji tahun ini akan mengalami peningkatan suhu rata-rata 1,5 hingga 2 derajat [Celsius] di atas normal di Mekkah dan Madinah," ungkap kepala pusat meteorologi nasional Arab Saudi Ayman Ghulam, dikutip dari DW.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk Mekkah, peningkatan suhu tersebut kemungkinan besar menyebabkan suhu rata-rata sekitar 44 derajat C.

Untuk mengurangi panas, semua alun-alun utama di Mekkah dan Madinah dilengkapi dengan sistem pendingin portabel. Selain itu, lantai Masjidil Haram di Mekah serta tenda-tenda di sekitarnya akan ber-AC.

Masalahnya, ibadah haji tidak cuma digelar di lingkungan ber-AC. Jemaah harus menghabiskan waktu hingga 30 jam di luar ruangan, termasuk berada di Arafah selama satu hari antara Matahari terbit dan terbenam.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Saudi, Mohammed Al-Abdulaali, mengatakan lebih dari 2.760 jemaah haji, Minggu (16/6), dilanda sengatan Matahari dan suhu panas ekstrem. Suhu saat itu mencapai 47 derajat C di Mekkah.

Pada 2023, suhu panas juga melonjak hingga 48 derajat C. Sekitar 8.400 jemaah haji menderita stres akibat panas, menurut surat kabar lokal Saudi Gazette.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di Journal of Travel Medicine menyatakan jemaah haji dari negara yang tidak terlalu panas memiliki kemungkinan meninggal 4,5 kali lebih besar dibandingkan penduduk setempat yang lebih terbiasa dengan suhu tinggi tersebut.

Krisis iklim

Kenaikan suhu yang membahayakan jemaah haji itu amat terkait dengan perubahan iklim dunia.

Sebuah studi dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Arab Saudi, mengungkap suhu meningkat 0,48 derajat setiap dekade dalam 40 tahun terakhir.

Penelitian itu mengungkap antara 1979 dan 2019 kota-kota besar di Arab Saudi mengalami perubahan suhu yang signifikan, termasuk Mekkah (+2,28 derajat C), Jeddah (+1,57 derajat C), Riyadh (+2,79 derajat C), dan Dammam (+1,88 derajat C).

Peningkatan suhu ini, menurut peneliti, "menunjukkan peningkatan tahunan rata-rata sebesar 0,48 derajat per dekade."

Para penulis menyebut peningkatan suhu ini seiring dengan pertumbuhan populasi Kerajaan Saudi dan aktivitas industri, khususnya peningkatan permintaan terhadap infrastruktur energi listrik dengan perkiraan kenaikan permintaan 22 persen pada 2030 dibandingkan tahun 2018.

"Dalam skenario paling ekstrem, suhu di Semenanjung Arab bisa meningkat sebesar 5,6 derajat C pada akhir abad ini," tulis para penulis.

Rinciannya, tingkat pemanasan global 1,5 derajat C dari tingkat sebelum periode industri memicu kenaikan suhu 2,2 derajat C di Semenanjung Arab; perubahan iklim dunia 2 derajat C memicu kenaikan 2,9 derajat C; dan pemanasan global 4 derajat C membuat kenaikan suhu 5,6 derajat C.

Climate Central, lembaga non-profit yang terdiri dari para ahli iklim, juga memprediksi suhu rata-rata harian di beberapa wilayah, termasuk Saudi, mencapai tingkat Indeks Pergeseran Iklim (CSI) 5.

CSI level 5 berarti menunjukkan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia memicu panas berlebih setidaknya lima kali lebih besar, yang menandakan peristiwa perubahan iklim yang luar biasa.

Proyek Saudi

Tobias Zumbrägel, peneliti di departemen Geografi Manusia di Universitas Heidelberg, menyinggung sejumlah proyek Saudi yang setengah hati buat iklim.

Soal transformasi energi yang banyak dilakukan Arab Saudi, yang merupakan bagian dari perombakan ekonomi dan sosial yang disebut Visi 2030, buat beralih dari penjualan minyak dan gas dan berfokus pada perluasan energi terbarukan, ia menyebut itu belum memadai.

"Selain itu, penggunaan teknologi ramah iklim seperti hidrogen menyebabkan masalah lebih lanjut karena banyak taman surya besar yang sedang dibangun harus dibersihkan secara teratur dengan air bersih," kata Zumbrägel, kepada DW.

Contoh lainnya adalah proyek Taman Raja Salman di Riyadh yang dipromosikan sebagai taman rekreasi terbesar di dunia dengan kawasan hijau yang mewah.

"Proyek-proyek ramah lingkungan yang besar seperti itu memperburuk masalah air," katanya.

"Kontradiksi-kontradiksi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim ditanggapi dengan serius, namun penyesuaian hanya dilakukan pada sektor-sektor tertentu, sementara aspek-aspek lain hanya mendapat sedikit perhatian."

Zumbrägel pun memperkirakan akan terjadi lebih banyak badai pasir dan angin, naiknya permukaan air laut, dan berkurangnya air di wilayah yang sudah sangat kering ini.

"Beberapa perkiraan berasumsi bahwa beberapa bagian Semenanjung Arab tidak dapat dihuni pada akhir abad ini," kata dia.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat