yoldash.net

Putin Buka Kemungkinan Pasok Senjata ke Korea Utara

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tidak tertutup kemungkinan Rusia akan mengirim senjata ke Korut jika Korsel mempersenjatai Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tidak tertutup kemungkinan Rusia akan mengirim senjata ke Korut jika Korsel mempersenjatai Ukraina. (Foto: via REUTERS/Gavriil Grigorov)

Jakarta, Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tidak tertutup kemungkinan Rusia akan mengirim senjata ke Korea Utara.

Moscow juga memperingatkan Korea Selatan untuk tidak mempersenjatai Ukraina.

Kemungkinan dan ancaman itu muncul usai Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani sejumlah perjanjian saat bertemu, termasuk pakta pertahanan bersama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perjalanan ke Vietnam, Putin mengatakan Moskow mungkin akan mengirim rudal ke Korea Utara, dan menyebutnya sebagai dampak buruk bagi negara-negara Barat yang memasok rudal ke Ukraina.

"Mereka yang mengirimkan ini (misil ke Ukraina) berpikir bahwa mereka tidak memerangi kami. Namun saya katakan, termasuk di Pyongyang, bahwa kami berhak untuk memasok senjata ke wilayah lain di dunia, sehubungan dengan perjanjian kami dengan Ukraina," ungkapnya dikutip AFP, Jumat (21/6).

"Saya tidak mengesampingkan hal itu (pengiriman senjata ke Korut)," imbuhnya.

Kamis lalu (20/6), Korea Selatan menyebut perjanjian Rusia-Korea Utara sebagai kekhawatiran besar. Seorang pejabat senior mengatakan Seoul akan mempertimbangkan kembali kebijakannya untuk tidak mengirim senjata langsung ke Ukraina.

Kemudian, Putin menepis kekhawatiran tersebut sembari memperingatkan Seoul untuk tidak memasok senjata ke Kyiv.

"Sehubungan dengan pengiriman senjata mematikan ke zona tempur di Ukraina, ini merupakan kesalahan yang sangat besar. Saya harap ini tidak akan terjadi," katanya Putin.

"Jika ya, maka kami akan mengambil keputusan yang mungkin tidak disukai oleh kepemimpinan Korea Selatan saat ini," ujarnya lagi.

Korea Selatan telah mengalami pertumbuhan besar dalam penjualan militer internasional dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, negara ini mempunyai kebijakan yang sudah lama melarang penjualan senjata ke zona konflik aktif. Kebijakan ini tetap diterapkan meskipun ada seruan dari Amerika Serikat (AS) dan Ukraina untuk mempertimbangkannya kembali.

Dalam kunjungan kenegaraan ke Korea Utara, Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani sejumlah perjanjian saat bertemu, termasuk pakta pertahanan bersama di Pyongyang, pada Rabu (19/6).

Pakta bertajuk "kemitraan strategis komprehensif" ini mencakup klausul pertahanan bersama jika terjadi agresi terhadap salah satu negara.

"Perjanjian kemitraan komprehensif yang ditandatangani hari ini antara lain memberikan bantuan timbal balik jika terjadi agresi terhadap salah satu pihak dalam perjanjian ini," kata Putin, dikutip Reuters.

Putin juga mengatakan Rusia membuka peluang bekerja sama secara militer dengan Korut. Dia lalu menyinggung tindakan negara Barat mengirim senjata jarak jauh ke Ukraina dan dipakai untuk berperang.

Menurut Putin pengiriman senjata dari Barat melanggar perjanjian besar.

"Sehubungan dengan hal ini, Rusia tak mengecualikan pengembangan kerja sama teknis militer dengan Republik Demokratik Rakyat Korea (nama resmi Korut)," ujar dia.

Di kesempatan itu, Kim memuji Rusia karena melakukan langkah strategis yang sangat signifikan untuk mendukung negaranya.

Kim mengatakan pakta itu akan memperluas kerja sama di bidang politik, ekonomi dan pertahanan antara kedua negara. Dia juga menyebut perjanjian bersifat "cinta damai dan defensif."

"Hubungan kedua negara telah meningkat ke tingkat aliansi yang lebih tinggi," ujar Kim.

(pta/pta)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat