yoldash.net

Andrian Raturandang: Jago Tenis Indonesia yang 'Dikalahkan' Krismon - Halaman 2

Andrian Raturandang pernah menempati posisi nomor satu di Indonesia sampai harus kemudian menghadapi lawan bernama 'krismon'.
Andrian Raturandang kini aktif menjadi pelatih baik untuk atlet 'serius' maupun 'fun tennis'. (Dok. Pribadi Andrian Raturandang)

Saya bisa menjadi atlet tenis tidak lain karena Papa saya, Alfred Raturandang. Papa atlet tenis bagus, tetapi enggak sampai level timnas. Beliau juga jadi pelatih di tingkat timnas, pernah berada di belakang layar saat Suharyadi/Yayuk Basuki juara ganda campuran Asian Games 1990.

Umur 3 tahun sudah mulai diperkenalkan, 6 tahun sudah bertanding dan 8 tahun juara Kelompok Usia (KU) 10 tahun dan selanjutnya bertahap ikut kejuaraan KU-12, KU-14, dan seterusnya.

Papa memang mengarahkan saya sebagai petenis karena katanya saya punya kans besar. Dari kecil sudah kenal dan latihan tenis, tetapi saya hampir tidak pernah merasa bosan. Tennis is my life, it's my passion.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mungkin ada atlet yang sudah latihan dari kecil dan bosan latihan, kemudian ingin bermain dengan teman-teman di sekolah, tetapi saya tidak begitu. Saya sudah terlanjur 'tune in' dengan tenis.

ADVERTISEMENT

Zaman masih muda pernah lah broken heart, dan saya lari lagi ke tenis. Di tenis itu saya bisa happy lagi, ha ha ha.

Bisa jadi karena memang saya sudah terbiasa dan apalagi saya sudah rutin di luar negeri sejak usia 14 tahun untuk tur Eropa di Belanda, Belgia, Jerman, Prancis, Inggris. Kemudian pada masa menjelang SMA, usia 15 tahun saya tinggal di Australia.

Pada masa usia sekolah saya adalah murid di SD Tarakanita, SMP PSKD, dan kemudian masuk SMA Ragunan. Pada awalnya, sebelum saya ke luar negeri, saya bisa ranking satu. Tetapi setelah mulai rutin ke luar negeri saya tetap bisa dapat ranking meski enggak bagus-bagus amat. Masih bisa mengimbangi lah.

Merintis karier sebagai atlet dan berstatus anak sekolah membutuhkan perjuangan lebih dan pengorbanan. Tetapi pihak sekolah dan teman-teman waktu itu cukup mengerti kondisi saya.

Papa memang waktu itu meminta pemahaman dari pihak sekolah, khususnya waktu SD dan SMP yang memang bukan sekolah atlet ya, bahwa saya tidak bisa sepenuhnya berada di kelas. Tetapi ya tetap saya mengerjakan tugas dan ikut ujian. Tidak jarang saya dibantu dalam proses belajar mengajar, termasuk saat mengerjakan tugas hingga ujian.

Bukan cuma soal di dalam kelas ya, dalam pergaulan juga teman-teman memahami saya. Dulu waktu mau coba-coba ngerokok, teman-teman saya langsung melarang, "Wah lo jangan ngerokok, lo kan atlet!"

[Gambas:Instagram]

Untuk latihan tenis, saya tidak selalu di bawah asuhan Papa. Justru Papa memberikan waktu buat saya untuk diarahkan pelatih-pelatih lain. Seperti waktu di Australia saya diarahkan Tony Roche yang juga pelatih tenis legendaris dan pernah mendidik petenis macam Ivan Lendl, Roger Federer, serta Lleyton Hewitt.

Mungkin pernah ada ya saya bosan main atau latihan tenis, ya sudah saya main basket atau sepak bola. Saya bahkan sempat berpeluang gabung ke tim bola basket divisi II di Jakarta, tetapi balik lagi saya adalah petenis.

Soal main basket atau sepak bola atau olahraga lain, menurut saya atlet tenis harus bisa. Karena ada hal di basket, di bola, di hoki, yang ilmunya bisa ditransfer ke lapangan tenis. Jadi itu berguna sebenarnya bagi atlet tenis.

Kebiasaan main basket sejak SMP ini juga membuka peluang saya berkawan dengan atlet-atlet basket nasional di era saya seperti Ali Budimansyah atau Romy Chandra. Kebetulan waktu itu kalau pelatnas semua cabang olahraga suka bareng dan kami kumpul di Hotel Atlet Senayan, jadi ya bertemu dengan mereka dan ikut main.

Sementara kalau di lapangan bola, ada oleh-oleh cedera patah kaki waktu tahun 2010 ketika tim anak tenis bermain melawan salah satu universitas di Jakarta.

Sepanjang berkarier sebagai atlet tenis, saya bisa dibilang mendapatkan segalanya. Bahkan saya mendapat tawaran untuk 'menyeberang' membela Singapura pada 1997. Presiden Asian Tennis Federation pada waktu itu kebetulan kenal dengan Papa dan om saya August Ferry Raturandang yang menjabat sebagai Sekjen Pelti.

Dia tahu kita waktu itu struggle di Indonesia dan mengajak ke Singapura dengan syarat tidak 'mengibarkan Merah Putih' selama dua atau tiga tahun. Awalnya ingin, tetapi pikir-pikir akhirnya memutuskan tidak jadi karena apapun yang terjadi lebih baik bawa nama Indonesia karena kita lahir di sini, semua yang kita miliki juga ada di sini.

Saat ini saya sebagai pemilik brand ART, saya masih membangun pelan-pelan sebagai pelatih dan lebih fokus buat yang sisi fun bukan prestasi. Kalau nanti bisa punya lapangan sendiri tidak mungkin bakal memoles atlet-atlet prestasi.

Banner Testimoni

Buat atlet tenis saat ini saya punya pandangan kalian punya bakat dan talenta yang bagus, tetapi ada masalah besar. Dari sisi pola pikir, atlet tenis itu harus mau berjuang lebih, jangan lekas puas, ayo ikut tur ke luar negeri, cari sponsor.

Itu adalah saran yang saya dapat dari pelatih Gebhard Gritsch yang juga merupakan pelatih Novak Djokovic. Betul saya rasakan ketika saya jadi nomor satu di sini, saya punya sponsor, terkenal, tetapi secara ranking internasional saya masih ada di level 300-an dunia. Dia 'menantang' saya untuk keluar dari zona nyaman, dan saya coba lakukan, tetapi lagi-lagi waktu itu mentok karena krismon.

Sementara dari sisi lain ada pula faktor yang menghambat prestasi atlet tenis Indonesia yaitu kekurangan kejuaraan di level nasional berkualitas.

Kita susah mengejar negara lain karena atlet-atlet luar negeri ikut tur dan masing-masing negara punya turnamen lokal berkualitas dan menyelenggarakan juga kejuaraan-kejuaraan internasional.

(nva/har)

HALAMAN:
1 2

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat