yoldash.net

Antropolog Blak-blakan Soal 5 Jenis Hantu di Jawa

Studi lama mengungkap jenis-jenis hantu berdasarkan keyakinan masyarakat Jawa. Simak karakteristik masing-masing makhluk halus itu.
Ilustrasi. Penelitian mengungkap keyakinan masyarakat Jawa soal jenis-jenis hantu. (iStockphoto/VSanandhakrishna)

Daftar Isi
  • Memedi
  • Lelembut
  • Tuyul
  • Demit
  • Danyang
Jakarta, Indonesia --

Penelitian antropoligis mengungkap setidaknya ada lima jenis hantu (spirit), yang dibedakan menurut penampilan dan karakteristiknya, di Jawa berdasarkan keyakinan masyarakat.

Hal itu terungkap dalam buku The Religion of Java (1960), yang diterjemahkan jadi Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa, yang merupakan hasil penelitian di Pare, Kediri, Jawa Timur, disamarkan dengan istilah Mojokuto, pada 1950-an.

Jenis-jenis hantu itu sendiri didapat berdasarkan wawancara dengan warga-warga lokal yang meyakininya, termasuk seorang tukang kayu muda dan informan lokal lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada banyak pembicaraan dan perdebatan tentang dunia makhluk halus. Meski terdapat kesepakatan tentang keberadaan dan pentingnya makhluk adikodrati (yang sebagai suatu kelompok, disebut bangsa alus), namun setiap orang tampaknya mempunyai pendapat sendiri mengenai sifat dasarnya serta pengalaman pribadi untuk membuktikannya," tulis Geertz.

ADVERTISEMENT

"Kepercayaan kalangan abangan di Mojokuto terhadap makhluk halus bukanlah bagian dari sebuah skema yang konsisten, sistematis dan terintegrasi, tetapi lebih berupa serangkaian imaji yang berlainan, konkret, spesifik."

"Serta terdefinisikan secara agak tajam metafora-metafora visual yang tidak terkait satu sama lain memberi bentuk kepada berbagai pengalaman yang kabur dan yang kalau tidak demikian, tidak akan dapat dimengerti," lanjutnya.

Dalam buku tersebut, Geertz, yang merupakan lulusan Harvard University, menyebutkan setidaknya ada lima jenis makhluk halus utama dalam kepercayaan masyarakat Mojokuto. Berikut penuturannya:

Memedi

Memedi adalah jenis makhluk halus Jawa yang paling mudah dipahami orang Barat, karena hampir persis sama dengan apa yang disebut sebagai "spooks (hantu)".

Makhluk halus ini biasanya ditemukan pada malam hari, khususnya di tempat-tempat yang gelap dan sepi

Biasanya memedi hanya mengganggu orang atau menakut-nakutinya dan tidak menimbulkan dampak serius. Sebutan untuk memedi laki-laki adalah genderuwo dan yang perempuan disebut wewe.

Geertz mengungkap ada peminjaman karakter hantu memedi dari budaya Barat, seperti jrangkong yang berupa terngkorak, wedon yang berbalut kain putih.

Namun, ada pula yang khas Indonesia; banaspati yang bisa menyemburkan api, jin yang salat lima waktu, setan gundul.

Beberapa bahkan disepakati umum dengan gambaran rinci. Contohnya, sundel bolong, perempuan cantik berambut hitam panjang dengan lubang besar di tengah punggungnya. Selain itu, ada Gendruwo yang usil, bisa bicara bahasa Jawa kuno, hingga menculik orang.

Lelembut

Lelembut, jenis makhluk halus yang bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan membuat kesurupan. Perjumpaan dengan lelembut, yang salah satunya diyakini tinggal di rumpun bambu, bisa berakhir dengan sakit, gila, bahkan kematian.

"Lelembut, berbeda dengan memedi, dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit atau gila," tutur Geertz, "Karena lelembut sama sekali tidak tampak, dia juga tidak mengambil wujud salah seorang keluarga, tetapi mereka ini sangat berbahaya bagi manusia."

Geertz mengungkap keyakinan masyarakat Jawa menyatakan efek kesurupan ini tak bisa diobati dokter Barat, hanya bisa oleh dukun.

Berdasarkan teori Jawa tentang kesurupan, lelembut selalu masuk ke dalam tubuh manusia dari bawah, melalui kaki. Ada empat jenis kesurupan yang dipicunya, yakni kesurupan, kampir-kampiran, setanan, dan kemomong.

Lihat Juga :

Tuyul

Tuyul adalah makhluk halus serupa anak-anak yang mampu mencuri uang tanpa bisa dilacak sama sekali.

"Tuyul menyerupai anak-anak ini, hanya mereka bukan manusia tetapi makhluk halus anak-anak. Mereka tidak mengganggu, menakuti orang atau membuatnya sakit; sebaliknya, mereka sangat disenangi manusia, karena membantu manusia menjadi kaya," tutur Geertz.

Untuk bisa 'mempekerjakan' mereka, warga mesti berpuasa serta bersemadi. Selain itu, mesti ada imbalan berupa tempat tidur dan bubur setiap malam.

"Kalau orang mau kaya, ia bisa menyuruh mereka mencuri uang. Mereka bisa menghilang dan bepergian jauh hanya dalam sekejap mata hingga tidak akan mengalami kesulitan dalam mencari uang untuk tuannya."

Kebanyakan orang beranggapan bahwa perlu membuat semacam perjanjian dengan setan di tempat-tempat keramat agar tuyul mau menerima tawaran. Korban manusia pun diperlukan tiap tahunnya.

Meski jadi kaya, Geertz mengatakan warga Jawa berkeyakinan pemelihara Tuyul akan menghadapi kematian yang menyakitkan: sekarat yang lama dan berat sekali sebelum meninggal.

"Nafas mereka makin lama makin pendek, mereka akan merasakan sakit dan demam tinggi yang berkelanjutan serta meninggal pelan-pelan dengan sangat menyakitkan."

Demit

Demit adalah nama yang lazim untuk makhluk halus yang memiliki tempat tinggal tetap dan mampu mewujudkan keinginan orang.

Ia tinggal di tempat-tempat keramat seperti punden, yang mungkin ditandai oleh beberapa reruntuhan Hindu, mungkin sebuah patung kecil yang sudah rusak, pohon beringin besar, kuburan tua, sumber air yang nyaris tersembunyi, atau kekhususan topografis semacam itu.

Jika ingin harapannya terkabul, warga Mojokuto, misalnya, mendatangi semacam patung Buddha, yang disebut Mbah Buda. Di sana, pemohon cukup berjanji akan mengadakan slametan untuk menghormati demit itu apabila permohonannya dikabulkan.

Danyang

Danyang umumnya adalah nama lain dari demit (kata dasar Jawa yang berarti makhluk halus). Seperti demit, danyang juga menetap di suatu tempat yang disebut punden.

Ia juga merespons permintaan tolong orang dan meminta imbalannya berupa selamatan.

"Seperti demit, mereka tidak menyakiti orang, hanya bermaksud melindungi. Namun, berbeda dengan demit, beberapa danyang dianggap sebagai arwah dari tokoh-tokoh sejarah yang sudah meninggal: pendiri desa tempat mereka tinggal, orang pertama yang membabat tanah," kata Geertz, yang merupakan profesor di Princeton.

Di Mojokuto, yang menjadi danyang desa adalah seorang pencuri, Maling Kandari.

Daerah yang berada di bawah kekuasaan danyang desa disebut kumara atau kemara, yang berarti suara yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Areanya meliputi seluruh ruang di atas desa.

[Gambas:Video CNN]

(rni/arh)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat