yoldash.net

AS: Kami Tak Percaya Apa yang Terjadi di Gaza Adalah Genosida

Amerika Serikat menganggap agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina sejak 7 Oktober lalu bukan kejahatan genosida.
Amerika Serikat menganggap agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina sejak 7 Oktober lalu adalah kejahatan genosida. (Getty Images via AFP/Kevin Dietsch)

Jakarta, Indonesia --

Amerika Serikat menganggap agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina sejak 7 Oktober lalu bukan kejahatan genosida.

Padahal, gempuran Israel selama tujuh bulan terakhir ini telah menewaskan lebih dari 35 ribu warga Palestina di mana sebagian besar merupakan anak-anak dan perempuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan Washington tidak percaya bahwa genosida terjadi di Gaza. Namun, AS mendorong Israel harus berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil Palestina.

Ketika gempuran Israel makin membabi-buta terutama ke Rafah Gaza, Sullivan mengatakan tanggung jawab soal perdamaian terletak pada kelompok militan Hamas

"Kami percaya Israel dapat dan harus berbuat lebih banyak untuk menjamin perlindungan dan kesejahteraan warga sipil yang tidak bersalah. Kami tidak percaya apa yang terjadi di Gaza adalah genosida," kata Sullivan seperti dikutip AFP, Senin (13/5).

Sullivan menambahkan bahwa kunci perdamaian dari konflik tersebut berada di tangan kelompok militan Hamas.

AS, lanjut Sullivan, menggunakan istilah genosida yang diterima secara internasional agar publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Sullivan juga menyebut bahwa Presiden AS Joe Biden berniat untuk menumpas Hamas. Namun, Washington menyadari sepenuhnya apa yang terjadi saat ini di Gaza telah membuat Palestina menderita bak di "neraka".

Biden terus mendapat tekanan dari dalam negeri dan luar negeri tentang konflik Israel-Palestina dalam beberapa waktu terakhir.

Di satu sisi, demo ribuan mahasiswa di kampus-kampus elite AS hingga seruan sejumlah pejabat untuk menghentikan agresi Israel di Jalur Gaza terus bergaung. Di sisi lainnya, Biden juga mendapat kecaman dari Partai Republik karena menghentikan pengiriman suplai senjata ke Israel.

Kendati demikian, AS juga menanyakan tentang strategi Israel usai menyerang Rafah. Sullivan lanjut mengutarakan niat Biden bahwa operasi tersebut "harus dikaitkan dengan tujuan akhir strategis yang juga menjawab pertanyaan, 'apa yang akan terjadi selanjutnya?'"

Pertanyaan tersebut pernah dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken yang menyebut bahwa Israel kekurangan 'rencana kredibel' untuk menjamin keselamatan warga sipil di Rafah.

Blinken merespon hal tersebut usai melihat tindakan Israel yang menggempur kota Rafah hingga mengusir warga Palestina.

Hingga kini, berbagai polemik yang terjadi di Washington membuat publik semakin bertanya-tanya tentang posisi AS dalam konflik Israel-Palestina. Cekcok yang terjadi antara AS dan Israel pun tak membuahkan hasil perdamaian yang jelas bagi warga Palestina.

Lebih dari itu, AS juga menolak resolusi yang diajukan di sidang Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa soal keanggotaan penuh Palestina di PBB pada Jumat (10/5) lalu. 

(val/rds)


[Gambas:Video CNN]

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat