yoldash.net

Ayah Seharusnya Jadi Pembuat Aturan untuk Anak

Ayah dan ibu seyogianya berbagi peran dalam mengasuh anak. Ayah harus menetapkan aturan-aturan untuk anak, sementara ibu menjadi tempat anak berkeluh kesah.
Ilustrasi. Ayah harus menetapkan aturan-aturan untuk anak, sementara ibu menjadi tempat anak berkeluh kesah. (iStock/rudi_suardi)

Jakarta, Indonesia --

Aturan-aturan yang berlaku dalam rumah tangga, terutama yang berhubungan dengan anak, harus diciptakan oleh sosok kepala rumah tangga, yakni ayah.

Ustaz Bendri Jaisyurrahman, yang juga merupakan pemerhati anak sekaligus konselor ketahanan keluarga mengatakan, aturan yang dibuat oleh sosok ayah bukan hanya untuk mendidik anak, tetapi juga melindungi ibu dari prasangka dan rasa tidak suka anak terhadap ibunya.

"Ini-lah yang sering kali salah kaprah akhir-akhir ini, bahwa sejatinya pembuat aturan di rumah itu harus-lah ayah, bukan ibu," kata Bendri saat dihubungi Indonesia.com, Senin (10/6).

Sosok ayah sebagai pembuat aturan, kata Bendri, dijelaskan dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 34.

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendak-lah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkan-lah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukul-lah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka jangan-lah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar."

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa laki-laki, dalam hal ini konteksnya suami, menjadi pemimpin rumah tangga. Aturan-aturan juga harus dibuat oleh seorang ayah. Namun, ayah atau suami juga tidak bisa serta-merta membuat aturan yang tidak sesuai dengan ketentuan dan ajaran-ajaran dalam Islam.

Lebih lanjut, Bendri juga menjelaskan alasan mengapa ayah harus menjadi pembuat aturan di rumah. Ayah memiliki sifat tegas yang bisa membuat anak taat pada perintahnya.

"Ayah juga diberi suara fibra yang mana setiap aturan yang disuarakan bisa lebih diterima anak. Aturan yang diminta juga menjadi lebih mudah dimengerti, dipahami sehingga bisa diikuti oleh anak-anak mereka," kata dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ilustrasi ibu dan anak perempuanIlustrasi. Dalam hal pola asuh, seorang ibu berperan menjadi tempat nyaman bagi anak berkeluh kesah. (iStock/Nuttawan Jayawan)

Jika peran pembuat aturan ini dijalankan, maka hubungan ayah dan anak juga terbangun dengan lebih baik. Bukan tak mungkin jika anak nantinya bisa lebih terbuka dalam menyampaikan pendapatnya.

"Buat-lah aturan yang tidak mengekang. Setiap membuat aturan itu harus dijelaskan alasan dan konteksnya. Kenapa harus begini, harus begitu, dijelaskan agar dialog antara ayah-anak muncul," ujar Bendri.

Dialog yang terbuka ini diharapkan nantinya bisa membuat anak tak segan untuk bercerita serta menyampaikan keinginannya.

Namun demikian, bukan berarti hal ini menafikan peran ibu. Meski bukan pembuat aturan, lanjut Bendri, sosok ibu selalu jadi tempat yang nyaman untuk anak mengadu dan berkeluh kesah.

"Aturan dibuat oleh ayah bukan karena ibu tidak mampu, tapi keduanya berbagi peran. Ayah bertugas membuat aturan dan ibu bersama-sama menjalankan aturan tersebut bersama anak. Berbagi peran itu-lah yang diajarkan dalam Islam," kata dia.

(tst/asr)


[Gambas:Video CNN]

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat