yoldash.net

Arsjad Rasjid, Anak Tentara yang Kini Jadi Pentolan Pengusaha

Arsjad Rasjid yang sekarang ini menjadi ketua Kadin dan baru saja ditunjuk menjadi Ketua Tim Pemenangan Ganjar berhasil sukses berkat gemblengan orang tua.
Arsjad Rasjid yang sekarang ini menjadi ketua Kadin dan baru saja ditunjuk menjadi Ketua Tim Pemenangan Ganjar berhasil sukses berkat gemblengan orang tua. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim).

Jakarta, Indonesia --

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Tak terkecuali, dari kedua orang tua.

Begitulah juga yang terjadi pada Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat atau yang lebih dikenal dengan nama beken Arsjad Rasjid.

Pengusaha kelahiran 16 Maret 1970 yang kini menjadi Ketua Umum Kadin dan Ketua Tim Pemenangan Ganjar itu bercerita semua kesuksesan yang didapatnya sekarang ini tak terlepas dari inspirasi hidup yang diberikan oleh kedua orang tua, terutama ayahnya H.M.N. Rasjid, seorang purnawirawan TNI AD.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepada Indonesia.com yang pada Rabu (30/8) lalu mengikuti kegiatan hariannya, Arsjad bercerita bahwa sejatinya ayahnya adalah seorang tentara. Meski demikian, ayahnya punya mimpi besar; ingin anaknya mandiri dan menjadi insinyur.

ADVERTISEMENT

Arsjad mengatakan ayahnya waktu itu punya pandangan dan mengatakan kalau ia mau bekerja dan mendapat gaji besar, insinyur adalah jawabannya.

Karena keinginan itu kemudian ia mengirimkan Arsjad kecil untuk bersekolah ke Singapura.

Arsjad yang saat itu baru berusia 9 atau 10 tahun ia titipkan ke sebuah keluarga berkebangsaan Arab, Muhammad Haj dan Amerika Serikat setelahnya.

Di AS, Arsjad menempuh pendidikan di sekolah akademi. Selepas menyelesaikan sekolah tingginya, ia kemudian melanjutkan studi electrical engineering ke University of Southern California 

"Pada waktu itu, electrical engineering, ada sub-nya. Saya khusus computer engineering," katanya.

Meski sudah kuliah di teknik komputer, Asrjad muda merasa ada yang kurang. Menurutnya, tahu soal teknik komputer saja tapi tidak tahu bisnis akan percuma. 

[Gambas:Video CNN]

Akhirnya ia bilang ke sang Ayah untuk pindah jurusan. 

"Yah, apakah memang mesti harus insinyur?" Aku mau pindah ini," katanya.

Arsjad bersyukur keinginannya itu tak ditentang ayahnya. Bahkan dengan bijak ayahnya saat itu menyerahkan semua kepada Arsjad.

"Beliau bilang akhirnya ini adalah kehidupan kamu. Jadi sekarang harus membangun kehidupan kamu. Nah, kalau emang kamu itu keputusan kamu, itu kamu putuskan. Nah, jadi itulah tidak tahu bagaimana akhirnya akhirnya masuk ke bisnis," katanya.

Berbekal restu sang ayah, ia akhirnya pindah ke sekolah bisnis di Universitas Pepperdine, AS. Setelahnya, ia sebenarnya ingin terus melanjutkan studinya di Negeri Paman Sam sampai ke level S2. Tapi keinginan itu ia tangguhkan.

Ia harus pulang karena sang ayah sakit. Setelah di Indonesia itulah, ia kemudian bekerja dan menikah. Nah, saat bekerja inilah naluri dan tangannya gatal untuk berbisnis dan jadi pengusaha.

Kegatalan makin menjadi saat awal era 1990-an, temannya datang dan mengajak bisnis. Cuma, saat itu Arsjad dihadapkan pada pilihan sulit.

Maklum, di satu sisi ia sudah menikah dan punya anak pertama. Keadaan itu paling tidak mewajibkannya untuk punya penghasilan tetap yang bisa didapat dari kerja.

Lalu bagaimana Arsjad mengatasi dilema itu? Simak wawancara lengkapnya di halaman 2

Bersambung ke halaman 2.....

Usia 9 Tahun Sudah Disekolahkan ke Singapura

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat